TNUK Sebagai Rumah Terakhir Badak Jawa


Badak Cula Satu Ujung Kulon
Banteniste_Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) terletak di ujung Barat Pulau Jawa, tepatnya berada di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Taman Nasional yang memiliki luas 122.956 Ha ini tidak hanya mencakup daratan saja melainkan juga mencakup lautan dan pulau-pulau kecil yang berada disekitarnya. Selain itu, TNUK juga merupakan taman Nasional pertama di Indonesia yang di dikukuhkan dan diresmikan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1991 sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi keberadaannya.

TNUK menyuguhkan berbagai jenis wisata dan kegiatan alam yang dapat kita lakukan di dalamnya seperti trekking, berkemah ataupun melihat alam liar secara langsung dengan menembus hutan belantara. Bahkan kita juga bisa menikmati keindahan lautnya yang menawan serta menyusuri pesisir pantainya yang masih perawan dan masih jarang terjamah wisatawan.

Namun selain sebagai tempat wisata, fungsi utama dari taman Nasional Ujung Kulon ini adalah sebagai Habitat dan tempat perlindungan bagi beberapa hewan yang terancam punah, salah satunya adalah Badak Jawa atau dikenal juga sebagai Badak Bercula Satu Kecil (Rhinoceros Sondaicus). Hewan yang menjadi ikon/maskot Kota Pandeglang ini, kini keberadaannya semakin hari semakin mengkhawatirkan, bahkan menurut  data terbaru pada Tahun 2014 populasi individu yang terpantau oleh Tim monitoring TNUK diperkirakan  hanya tersisa 57 ekor Badak Jawa saja, namun data tersebut masih dapat berubah karena kemungkinan masih ada Badak Jawa yang tidak terpantau monitor.

Sifat Badak Jawa memang cukup tenang dan cenderung menghindari manusia, mereka akan menjauh ketika merasakan keberadaan manusia ataupun hewan pemangsa yang sedang mendekat. Hewan memamah biak yang mampu bertahan hidup selama 30-40 tahun ini hidup secara berkelompok dan biasanya akan berkumpul dan bermain di kubangan dengan kelompoknya agar bisa mempertahankan diri dari ancaman hewan pemangsa. Meski demikian, di TNUK badak dewasa sebenarnya tidak memiliki pemangsa sebagai musuh, namun para Anakan Badak yang masih kecil itulah yang sangat rentan terhadap serangan Anjing Liar dan Macan Tutul yang dapat mengancam keberadaan spesies yang langka ini.

Selain ancaman dari pemangsa, badak juga kerap dijadikan target pemburu hewan untuk kemudian di ambil tanduknya dan dijual-belikan secara illegal. Namun demikian kabar tentang perburuan Badak Jawa sudah sangat jarang atau bahkan sudah cukup lama tidak terdengar lagi, tetapi ancaman para pemburu akan tetap ada dan harus tetap diwaspadai.

Penurunan populasi Badak jawa juga bukan hanya karena pemangsa dan pemburu. Selain itu Badak Jawa juga cukup rentan terkena penyakit yang jika tidak ditangani secara serius akan mengakibatkan kematian binatang ini, ditambah dengan angka perkembangbiakan yang kecil membuat keberadaan Badak Jawa semakin mengkhawatirkan dan terancam punah. Oleh karena itu biasanya kesehatan Badak di TNUK selalu di pantau agar dapat meminimalisir penyebaran penyakit dan memangkas angka kematian binatang langka tersebut.

Namun untuk bisa menemui kawanan Badak Jawa ini sangatlah sulit, karena kebiasaan  mereka yang selalu menghindar. Untuk mengetahui keadaan Badak tersebut Tim dari TNUK biasanya akan mengambil sampel kotoran dari hewan ini untuk diteliti sehingga kemudian akan diketahui terkena penyakit atau tidak.

Melihat jumlah populasi Badak Jawa saat ini sangatlah mengkhawatirkan, populasinya yang hanya tersisa sekitar 57 ekor pada tahun 2014 membuat kepunahannya seakan semakin nyata. Mungkinkah anak-cucu kita di masa depan masih bisa mengetahui Badak Jawa? Mungkin saja. Karenanya, marilah kita bersama-sama menjaga baik floura maupun fauna yang berada di sekitar kita. Agar keindahan dan kekayaan alam kita tetap terus terjaga hingga dapat dinikmati pula oleh anak cucu kita kelak.