Pendakian Yang Gagal di Gunung Pulosari.....

Ilustrasi
Ini adalah catatan kecil tentang sebuah petualangan konyol Saya, Faiz dan Gilang semasa kuliah. Petualanagan yang pastinya gak akan pernah Kami lupakan. Tapi, sayangnya saat itu Menkominfo Badboys Brothers, Eman Suherman Al-alay gak bisa ikut berpetualang bareng kami. Tapi yaa sudahlah, meskipun tanpa Eman petualangan menuju puncak Pulosari harus tetap berjalan. Karena itu adalah pendakian perdana kami, maka kami gak mau kalo pendakian  itu sampe gagal.

Pagi itu (lupa Hari Apa), Saya, Faiz dan Gilang kumpul di rumah Gilang di Desa Cipedang, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak-Banten untuk mempersiapkan pendakian kami ke Gunung Pulosari Pandeglang. Dengan modal nekat dan bekal duit masing-masing Rp.50.000 (kantong mahasiswa), sekitar jam 07:00  pagi kami berangkat menuju Menes, tepatnya ke Desa Kaduronyok. Desa inilah yang nantinya akan menjadi tempat start pendakian kami menuju ke Puncak Pulosari.

Setelah dua jam perjalanan dari CIpedang, akhirnya kami sampai juga di pasar Menes, sesampainya disana kami berhenti sejenak di depan mini market untuk membeli beberapa perbekalan yang dibutuhkan untuk di perjalanan nanti. Diantaranya yaitu kue-kue kering, Mie Instant, dan 2 botol besar air Mineral. Setelah dirasa bekal kami sudah cukup memadai, kami melanjutkan perjalanan ke desa kaduronyok yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari pusat kota Menes. Dan katanya sih di desa Kaduronyok ini pulalah dahulu temen saya Gilang kecil tumbuh dan sekolah, dan karena faktor Gilang ini pulalah yang membuat kami mantap untuk memutuskan dan memilih liburan kami dengan mendaki gunung Pulosari, Katanya sih dia (Gilang) pernah sekali mendaki gunung pulosari saat dulu waktu dia masih SD disana, katanya.

Setelah 15 menit berjalan akhirnya kami sampai di desa Kaduronyok, Gilang menuntun kami untuk berhenti di sebuah rumah di desa tersebut yang merupakan rumah dari kerabat orang tuanya. Kami pun istirahat sejenak dengan bercangkir-cangkir kopi (Secangkir Gk Cukup) menemani kami  hingga dzuhur menjelang.

Dengan modal limit, nekat dan dengan Gilang sebagai tour guide yang katanya waktu SD pernah daki gunung itu, kami pun mantap untuk mencoba menaklukan gunung tersebut. Dan setelah selesai shalat dzuhur kami segera berkemas dan memakai kostum untuk mendaki Gunung (sesuai selera masing-masing aja). Faiz dengan costum atasan Topi, T-shirt dan celana kolor pendek + sandal teplek, Saya dengan celana Loreng panjang, T-shirt + sepatu AL, dan Gilang dengan kostum yang gak jauh beda dengan Faiz, Dalam hati saya mikir, ini anak-anak mau pada daki gunung apa mau ke pantai siih.? Koq koloran gitu, yaa walaupun saya juga gak bisa dibilang pake kostum yang pas tapi ya setidaknya sedikit lebih meyakinkan lah. Tapi yaa sudahlah, namanya juga kami pemula, naik gunung aja baru kali ini gak usah ambil pusing masalah kostum kaya gituan, gak penting banget, yaa gak ndroo? (Sebenernya sih sangat juga ternyata).

Perjalanan start dimulai dari kaduronyok, dengan melalui jalur yang sangat jarang dilalui para pendaki, bahkan mungkin sudah bertahun-tahun tidak dilalui manusia. dan disinilah awal cerita tentang tiga orang pendaki gunung amatir  sok bisa buka jalur pendakian baru sendiri.

Dalam perjalanan, Gilang berjalan di depan saya dan Faiz. Karena kami pikir Gilang pasti jauh lebih paham dari kami tentang seluk beluk gunung ini, akhirnya kami percayakan semuanya sama Gilang sebagai penunjuk jalan. Setelah beberapa menit berjalan menyusuri jalan-jalan perkampungan di kaki gunung, setengah jam kemudian ternyata kami masih juga berkutat di perkampungan itu.

Dalam hati saya udah pengen nanya aja sama si Gilang “Lang, ni kita kapan dakiii gunungnyaa sih?”, tapi gak enak juga sih sama dia, soalnya mukanya itu udah dipasang dengan sangat meyakinkan banget, sambil sesekali bilang ,”Tenang Guys, percaya aja deh sama gue”. Akhirnya saya sama Faiz gak ada pilihan lain selain ngikutin langkah Gilang.

Sampe akhirnya kami menemukan pertigaan jalan di tengah-tengah perkampungan tersebut, beberapa saat kita sempet bingung untuk ngambil jalan yang mana, ke kiri atau lurus aja. Akhirnya keputusan kita serahin lagi ke Gilang buat milih jalan, dengan (masih) pasang muka meyakinkan dia tuntun kami ambil jalan yang lurus, dan sekali lagi dia bilang, ”tenang Guys, percaya aja deh sama saya”. Yaa, kami siihh percaya aja, soalnya kan saya sama Faiz gak tau sama sekali, Cuma si Gilang doang yang pernah daki gunung ini (waktu SD) katanya. Berbekal pengalaman berharganya itulah akhirnya kami terus melaju dengan penuh keyakinan (Gak yakin-yakin amat sih).

Sekitar 300 Meter dari pertigaan tadi, tiba-tiba Gilang mengajak kami berhenti, perasaan saya juga emang udah gak enak aja dari awal berangkat. Setelah berhenti saya liat muka meyakinkannya itu sedikit meluntur, namun totalitasnya berperan sebagai Tour Guide membuat dia untuk tetap pasang muka meyakinkan di depan kami. Perlu di acungi jempol dah, padahal kami juga tau sih dia juga bingung.

Kemudian kita memutuskan untuk bertanya ke salah seorang warga di kampung tersebut, “Punten pak, kalo jalan yang mau ke gunung pulosari kemana yaa?”. Bapak itu pun menjawab dengan lembut, “Itu tadi kelewat, ada pertigaan ke atas (Kiri), kesinimah gak ada jalan” ungkap bapak tersebut sambil menunjukan arah jalan pada kami. Kami pun terpaksa memutar arah dan balik lagi ke pertigaan tadi. Sambil ketawa-ketiwi dan pasang muka meyakinkan dia (Gilang) bilang, “Tenang guys, Loe masih percaya kan sama gue?”, Saya inget banget sepanjang perjalanan dia ulang kata-kata itu gak ada abisnya, bosen juga siih dengernya.

Bebereapa jam kemudian……………

Udah hampir dua jam kami berjalan, tapi ternyata kami masih di perkebunan warga, “kapan nyampe puncaknya ndroo?” Tanya si Faiz. Kami pun memutuskan istirahat sejenak untuk minum dan meluruskan kaki. Disaat kami sedang tenang istirahat diantara pepohononan yang rindang sesuatu yang aneh terjadi disana, sayup-sayup terdengar suara tak berwujud, anehnya suara itupun terdengar tak asing ditelinga kami, dengan menahan nafas sesekali kami menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari dan memastikan sumber suara tersebut, dan ketika kami menengok ke atas, masya Allah, ternyata oh ternyataa ada seorang bapak-bapak yang lagi manen cengkeh di atas pohon sambil dengerin music dangdut dari HPnya, “hebat bener tu bapak, kit amah ngos-ngosan sampe kesini, tu bapak malah masih bisa santai-santai di atas pohon” Suupeerr sekali bapak cengkeh ini.  Tadinya sih kirain ada burung yang bisa nyanyi dangdut atau ada sejenis makhluk apa gitu di atas pohon, tapi ternyata si bapak pemanen pohon cengkeh. Haha

Setelah istirahat kami rasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan ke puncak Pulosari. Beberapa saat kemudian kami sudah meninggalkan perkebunan warga dan mulai memasuki hutan gunung yang sebenarnya.

Kebahagian dan keceriaan kami tergambar disepanjang perjalananan dengan diiringi guyonan khas kami, sambil sesekali kami juga merekam momen-momen di perjalanan dengan menggunakan Handycam yang kami bawa.

Jam menunjukan pukul 5 sore, semakin lama hutan semakin gelap dan jalan pun mulai tak terlihat, tanda-tanda jejak kakipun mulai tersamar rumput yang tumbuh subur diatasnya. Kami terus berjalan kedepan hanya dengan melalui celah yang tidak ditumbuhi tumbuhan perdu dan belukar, namun semakin ke atas belukar dan tanaman berduri tajam tumbuh semakin lebat, sehingga kami tak dapat melihat jalan yang harus kami lalui. Dalam keadaan seperti ini Faiz mengambil alih di depan untuk membuka jalan dengan menebas tumbuhan-tumbuhan tersebut dengan menggunakan golok yang dibawanya, namun ternyata tumbuhan tersebut terlalu tebal dan sulit untuk ditembus, kami terus mencoba dan mencoba sampai akhirnya kami dapat menembusnya dan menemukan celah seperti jalan setapak di depan kami, akhirnya kami pun berjalan melalui jalan setapak tersebut, namun anehnya jalan tersebut seperti sebuah lorong dibawah belukar dan dengan kondisi yang sangat berantakan dan tak beraturan. Melihat itu pikiran kami mulai liar kemana-mana dan tak terkendali, namun kami berusaha tenang dan terus berjalan.

Jam 6 maghrib, hari semakin gelap, kami masih menyusuri jalanan yang kami lewati sebelumnya, salah seorang diantara kami berkata, “Gimana nih udah maghrib?”, sedang kami masih belum menemukan jalan. Sambil menengok ke atas saya bilang, “Bentar lagi, itu udah keliatan puncaknya” . kami terus berjalan dan ternyata puncak yang kami tuju  tak jua kami temui.

Semakin lama kepanikan mulai tergambar di raut wajah-wajah kami, bukan mahluk halus yang kami takuti, tapi kami khawatir gerombolan babi atau binatang liar lainnya akan bemunculan, apalagi hari sudah mulai gelap dan jam menunjukan pukul 19.00 malam. Semakin malam kepanikan semakin menjadi-jadi, setelah dirasa tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kami pun akhirnya memutuskan untuk kembali dan membatalkan perjalanan menuju puncak.

Ternyata ketegangan tidak berhenti sampai disitu, saat perjalanan turun, kepanikan itu menjadi semakin tak terkendali, Teman yang paling depan menuruni gunung sambil berlari, mungkin karena khawatir dengan hewan buas sehingga belukar dan tanaman berduri pun tak kami hiraukan lagi, kami tembus  belukar berduri dengan tangan kosong sambil berlari kebawah mengikuti bekas jalur air. Karena gelap, panik dan terhalang tumbuhan, beberapa kali teman-teman terperosok ke jurang dan saluran air, untung saja sempat tersangkut pada tumbuhan-tumbuhan rambat di dekat jurang tersebut.
Karena takut tertinggal, saya pun lari di belakang, kami terus berlari kebawah sampai pada akhirnya salah seorang dari kami, Faiz jatuh dan kakinya terluka terbentur batu di saluran air yang kering di tepi jurang, kami segera berhenti dan beristirahat. Melihat kondisi tubuh yang mulai kelelahan dan situasi medan yang sudah sangat gelap akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan bermalam disana. Namun sayangnya kondisi medan disana sangat tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk menggelarnya (tenda) dan tidur di atasnya, karena kelelahan kami tertidur begitu nyenyak hingga pagi hari tiba.

Ketika pagi tiba, kami mulai bisa bercanda dan tertawa kembali sambil mengucapkan “Selamat pagi dunia”. Dan tak sadar ternyata seluruh badan kami terasa sakit dan perih. Kaki Faiz benjol kena batu dan banyak goresan di kaki dan tangan karena duri saat berlarian pada saat turun, begitupun halnya gilang sama ancurnya. Untung saja saya pakai celana panjang dan sepatu, jadi Cuma sedikit goresan yang saya dapet, mungkin disinilah alasan saya bisa bilang “saya gak salah-salah amat milih kosyum, hehe”.

Sesaat setelah bangun pagi, kami menyempatkan makan cemilan dan mie instan remes, karena memang kondisinya susah buat masak jadi kami hanya bisa memakannya mentah dengan cara diremukan (remes). Dan sesaat kami sempat berfikir bahwa kamilah orang pertama yang menginjakan kaki di tempat tersebut (hehe) dan orang yang pertama kali membuang cangkang mie instan disitu (Khilaf : jangan ditiru), karena ketika kami melihat ke depan, kebelakang, kekanan dan ke kiri semuanya hutan, dan disana belum ada satupun sampah sama sekali, maka kami fikir kamilah orang pertama yang menginjakan kaki di tempat itu (Serasa jadi colombus).

Setelah selesai sarapan dan berkemas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, dan misi menuju puncak pertama akhirnya gagal total. Kami beranjak dari tempat kami menggelar tenda semalam, dan baru juga sekitar 20 meter berjalan melewati hutan, kami sudah dikejutkan kembali. Ternyata sekitar 20 meter dari tempat kami bermalam sudah ada pemandangan yang sangat membelalakan mata kami, yaa, perkebunan warga terbentang didepan kami. Masya Allah, sambil sedikit melongo dalam hati kami bicara “semalem kami masih berfikir kalo kami lagi tidur di tengah belantara, tapi ternyata setelah siang kami baru sadar kalo semalem ternyata kami tidur di samping kebon orang”, ternyata oh ternyata.
Dan pada akhirnya kami meneruskan perjalanan turun melalui perkebunan warga, hingga sampai ke sebuah perkampungan dan bertemu bapak & ibu tani, mereka menyapa kami dengan ramah; “Timana a?” , kami pun menjawab “habis daki gunung pulosari pak/bu” sambil pasang mode ramah.

Kemudian salah seorang dari kami bertanya pada bapak/ibu tani tersebut, “Punten pak ini dimana ya”, lantas sang bapak dan ibu itu pun menjawab, “ini mah Palembang a”, oohhh .. Palembang, mendengar kata Palembang kami sempat kaget dan inget pempek (mungkin karena lapar), mana mungkin kami naik gunung dari Kaduronyok-Menes-Pandeglang-Banten koq bisa turunnya di Palembang, tapi koq Palembangnya sunda yaa? Bingung juga jadinya.

Namun setelah ngobrol dan nanya-nanya, ternyata Palembang yang bapak/ibu itu maksudkan adalah adalah nama h sebuakampung di sekitar Menes juga. Dan setelah dari situ kami segera pulang menuju rumah kerabat gilang yang ada di Kaduronyok…. Perjalanan Tiga Pendaki Amatir Pun Akhirnya Berakhir dengan seancur-ancurnya, seancur tangan dan kaki Faiz dan Gilang (Alhamdulillah, saya mah nggk banyak yang lecet) kena duri-duri tumbuhan gunung…..

Itulah sekelumit catatan pengalaman saat mendaki gunung untuk kali  pertama yang Gagal menemui Puncak, dan beberapa pendakian setelahnya Alhamdulillah. Selalu ketemu puncak.

“Apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, itu hanyalah factor kesengajaan semata, mohon dimaafkan”.

Penulis : Rendi Ir