Sanghyang Sirah, Surga Peziarah Di Belantara Ujung Kulon

Image by baltyra.com
Bantensite - Sang Hyang Sirah (Sanghyang Sirah) adalah nama sebuah tempat wisata yang berada di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Nama Sang Hyang Sirah itu sendiri biasa diartikan sebagai “Sirah Jawa” atau “Kepalanya Pulau Jawa”. Dikatakan demikian karena posisinya yang persis terletak tepat di ujung paling Barat Pulau Jawa.

Selain itu, masyarakat sekitar juga meyakini konon ditempat inilah dahulu sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW yaitu Khalifah Ali Bin Abi Thalib bertemu dengan Prabu Munding Wangi dan Prabu Kian Santang untuk menyerahkan Al-Quran sebagai pedoman menyebarkan Agama Islam di Nusantara (yang kemudian cerita ini menjadi awal mula terbentuknya kisah tentang Batu Qur`an).

Beberapa abad kemudian barulah Petilasan di Sang Hyang Sirang ini menjadi tujuan wisata Ziarah dan ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru Negeri. Bukan hanya itu, disini juga para peziarah akan disuguhkan dengan pemandangan pantai dan hutan yang sangat menawan, surga tersembunyi yang masih alami di Kepala Pulau Jawa.

Sama seperti petilasan atau tempat yang dianggap keramat pada umumnya. Di Sang Hyang Sirah juga terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar para peziarah, diantaranya adalah : pengunjung tidak boleh menjelajah sendiri tanpa ada izin dari kuncen, tidak boleh makan sambil berdiri dan mengharuskan makan dan minum dalam keadaan duduk, tidak boleh sembarangan saat ingin buang air besar maupun buang air kecil, tidak berbicara kasar, tidak mengeluh, tidak bercanda berlebihan, dan peziarah pun harus terus bershalawat dan membaca do’a agar terhindar dari gangguan-gangguan gaib. Disana juga dilarang mengambil gambar sembarangan karena ada beberapa tempat yang dilarang untuk di ambil gambarnya.

Menurut penuturan beberapa orang yang pernah kesana, tempat yang dikeramatkan di ujung kulon ini konon memang dipenuhi dengan aura mistis. Hal ini mungkin karena lokasi tempat tersebut yang berada di antara hutan lebat dengan pepohonan besar dan lautan luas, sehingga sangat jarang terjamah Manusia. Suasana disana begitu sunyi, sepi serta Jauh dari hingar bingar kendaraan dan gaduh perkotaan. Namun sayangnya selain untuk berziarah, kekeramatan Ujung Kulon seringkali dijadikan tempat orang-orang yang memiliki niat yang salah untuk melakukan pesugihan. Naudzubillahi Min Dzalik…

Meski demikian tidaklah bijak untuk selalu berpandangan stereotype pada semua orang-orang yang pergi ke Sang Hyang Sirah (Ujung Kulon) sebagai pencari Pesugihan, karena banyak yang pergi kesana juga dengan niat yang tulus untuk berziarah atau mungkin sekerdar untuk berwisata ke alam bebas.

Karena segala perbuatan seseorang bergantung pada apa yang diniatkannya, dan niat di dalam hati seseorang hanya Allah yang mengetahuinya. Maka yakinlah, bahwa tidak akan ada makhluk yang bisa memberi manfaat dan memberikan madharat, karena Allahlah yang mahakuasa atas segala sesuatu (Ustadz Mode On).

Akses “Buat sampe ke Sang Hyang Sirah emang gak bisa dibilang mudah Gan. Ada beberapa opsi buat bisa pergi kesana, kalo gak nyewa kapal yaa harus siap jalan berjam-jam bahkan ampe berhari-hari menelusuri lebatnya hutan di belantara Taman Nasional Ujung Kulon. hehe”